Candi Cetho merupakan situs peninggalan sejarah yang ditemukan di lereng Gunung Lawu yang masuk wilayah kabupaten Karanganyar. Candi ini pernah mengalami pemugaran total pada saat pemerintahan Presiden Soeharto dan saat ini telah dibuka menjadi obyek wisata bersama Candi Sukuh. Hal lain yang menarik adalah selama perjalanan menuju Candi Cetho akan dihibur dengan pemandangan Perkebunan Teh Kemuning.
Candi Cetho terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, pada ketinggian 1.400m di atas permukaan laut. Saat ini para ahli baru bisa memperkirakan bahwa Candi Cetho merupakan kaitan dengan akhir pemerintahan Majapahit (abad ke-15) karena menjadi tempat persinggahan dan pelarian Prabu Brawijaya V ke gunung Lawu.

Tanjakan terakhir melewati kawasan pemukiman didominasi masyarakat beragama Hindu dan dibagian paling ujung terlihat gerbang gapura Candi Cetho. Ketika tiba di area parkir Candi Cetho, kabut tebal langsung menyambut kami. Akhirnya kami langsung menuju ke loket tiket masuk dan berjalan menaiki tangga memasuki gapura candi Cetho. Di depan gapura kita mendapati sepasang arca penjaga. Arca penjaga tersebut dinamakan Arca Nyai Gemang Arum. Keanehan bentuk Arca Nyai Gemang Arum ini menyerupai orang Sumeria bukan orang Jawa dan arca ini tidak ditemukan pada candi-candi peninggalan kerajaan Majapahit yang lainnya.

Memasuki gapura, kami mendapati bentuk gapura bukan peninggalan masa lampau. Gapura ini diperkirakan dibangun pada saat renovasi Candi Cetho tahun 1970an oleh Presiden Soeharto yang melakukan penambahan bangunan dan sedikit merubah keaslian candi. Setelah melewati gapura pertama, Candi Cetho terlihat memiliki sembilan tingkatan berundak. Namun sebenarnya Candi Cetho memiliki tigabelas tingkatan berundak, namun hanya sembilan tingkatan berundak yang dipugar. Di teras kedua kami mendapat informasi bahwa halaman ini merupakan tempat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur dusun Cetho.
Pada teras ketiga terdapat susunan batu yang membentuk kura-kura raksasa yang konon sebagai lambang Majapahit. Didepan kepala kura-kura terdapat simbol phallus (alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. darii suryasengkala berangka tahun 1373 Saka, atau 1451 masehi.

Di teras selanjutnya terdapat relief batu yang bercerita mengenai Sudhamala, hampir sama seperti relief yang terdapat di Candi Sukuh yang menceritakan kisah manusia tentang usaha untuk melepaskan diri dari malapetaka. Di setiap teras terdapat dua pendapa yang mengapit jalan menuju ke bangunan utama.
Di teras ketujuh candi Cetho terdapat sepasang arca. Di sisi utara merupakan arca Sabdapalon dan di selatan arca Nayagenggong, dua tokoh setengah mitos (banyak yang menganggap sebetulnya keduanya adalah satu orang) yang diyakini sebagai abdi dan penasehat spiritual Sang Prabu Brawijaya V.

Pada teras selanjutnya, di depan gapura terdapat Arca Phallus (dinamakan “kuntobimo“) di sisi utara dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Pemujaan terhadap arca phallus melambangkan ungkapan syukur dan pengharapan atas kesuburan yang melimpah atas bumi setempat.
Sebelum memasuki teras tertinggi terdapat jalan tembus ke arah kiri menuju ke Candi Kethek dan Puri Saraswati. Namun kami terus berjalan menapaki tangga batu ke arah teras tertinggi. Akhirnya kami sampai di teras tertinggi yang terdapat bangunan utama. Di teras ini terdapat beberapa bale yang terbuat dari kayu. Bangunan bale ini bukan merupakan peninggalan sejarah karena dibuat pada beberapa tahun yang lalu. Pendapa ini masih digunakan untuk beribadah bagi umat Hindu dan orang-orang yang beraliran Kejawen (Jawa).

Bagunan utama Candi Cetho berbentuk piramida yang terpenggal atau trapesium mirip dengan bangunan utama Candi Sukuh. Sepertinya bagian bangunan utama yang berbentuk piramida terpenggal ini masih asli dan sedikit mengalami perubahan. Walaupun mungkin ketika renovasi dilakukan penggantian beberapa batuan candi yang sudah lapuk dengan yang baru agar bisa berdiri dengan sempurna. Bila diperkirakan struktur asli kompleks Candi Cetho tidak jauh berbeda dengan Candi Sukuh. Di dalam pintu masuk bangunan utama Candi Cetho ini terdapat relief yang menggambarkan alat kelamin wanita yang kono memiliki mitos untuk menguji keperawanan seorang gadis. Ada yang ingin membuktikannya?

Menurut informasi masih banyak hal yang perlu dikaji mengenai Candi Cetho mengingat banyak keanehan pada bentuk dan struktur batuan candi. Candi-candi yang dibangun pada masa kerajaan Majapahit sebagian besar terbuat dari batu bata dengan ukiran yang lebih beragam. Batuan candi Cetho yang terbuat dari batu kali ini diperkirakan dibangun sebelum kerajaan Majapahit dan prasasti yang ditemukan bukan prasasti tahun pembuatan melainkan tahun saat renovasi candi yang dilakukan pada zaman kerajaan Majapahit. Beberapa relief dan patung justru tidak memiliki kaitan dengan candi-candi lain di Indonesia namun mirip dengan bangunan candi yang ada di peradaban Inca, Maya di Amerika Latin. (text/foto: annosmile)
Sumber:https://teamtouring.net/candi-cetho-karanganyar.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar