Candi Bajangratu diperkirakan memiliki fungsi sebagai penghormatan kepada Jayanegara. Hal ini didasarkan pada relief Sri Tanjung yang berada di bagian kaki gapura yang menceritakan tentang cerita peruwatan. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa Raja Jayanegara meninggal pada tahun 1328. Di kitab Pararaton juga disebutkan bahwa Jayanegara yang wafat pada tahun 1328 itu, dibuatkan sebuah tempat suci di dalam kedaton, dibuatkan arca dalam bentuk Wisnu di Shila Petak dan Bubat, serta dibuatkan arcanya dalam bentuk Amoghasidhi di Sukalila. Krom berpendapat bahwa Csrenggapura di kitab Pararaton sama dengan Antarasasi (Antarawulan) dalam kitab Negarakertagama, sehingga dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa 'dharma' (tempat suci) Jayanegara terdapat di Csrenggapura atau Crirangga Pura atau Antarawulan, dengan nama sekarang yaitu Trowulan. Arca perwujudan Wisnu juga terdapat di Bubat (Trowulan). Cuma Shila Petak atau Selapetak yang belum diketahui tempatnya.
Apabila melihat dari struktur bangunan, Candi Bajangratu lebih mirip sebagai pintu gerbang atau gapura paduraksa yang diduga merupakan pintu gerbang Keraton Majapahit. Hal ini diperkuat dengan lokasi bekas istana Majapahit yang tidak jauh dari Candi Bajangratu.
Candi Bajangratu menurut perkiraan didirakan pada abad ke 13 dan 14 Masehi, mengingat :
- Fungsi candi sebagai peruwatan Jayanaegara yang wafat pada tahun 1328 M
- Bentuk Candi Bajangratu yang menyeruai gapura seperti Candi Penataran di Blitar.
- Relief yang ada di bingkai pintu yang mirip dengan relief yang ada di Candi Panataran
- Relief dengan bentuk naga yang menunjukkan adanya pengaruh dari dinasti Yuan.
Pada bagian dalam candi membentuk lorong yang membujur dari barat ke timur. Atap candi ini memiliki bentuk meru (gunung) yang menyerupai limas bersusun dengan puncak berbentuk persegi. Candi Bajangratu mengalami beberapa pemugaran pada pemerintahan Belanda, namun hingga kini tidak didapatkan data mengenai pemugaran tersebut. Perbaikan candi dilakukan guna memperkuat bagian sudut dengan mengisi pengeras ke dalam nat - nat yang renggang serta mengganti balok kayu dengan semen cor.
Sumber:http://www.idsejarah.net/2016/09/candi-bajang-ratu.html


Tidak ada komentar:
Posting Komentar